[Fanfiction] Inseparable Love
Title: Inseparable Love
Genre: Romance
Casts: Kim Jongwoon/Yesung, Sung Younghee (OC)
Rated: T
Length: Oneshot
Author: Amanthaami
Happy reading!
Flashback~
“Sebenarnya… sebenarnya, aku menyukaimu. Mm, tapi sepertinya rasa suka itu sangat besar. Bagaimana ya? Kurasa aku… aku… aku mencintaimu. Maukah kau menjadi takdirku dan menikah denganku saat kau sudah dewasa nanti?” tanya Yesung gugup. Ia memberikan setangkai mawar merah kepada seorang gadis yang sedang duduk manis di bangku taman depan rumahnya.
“Oppa, aku lah takdirmu. Aku yang akan menikah denganmu saat aku dewasa nanti.” Ucap gadis itu menerima setangkai bunga pemberian Yesung.
Dan jawaban itulah yang membuat Yesung sangat gembira. Ia menarik tangan gadis itu masuk ke dalam rumahnya.
“Duduklah disini sebentar,” kata Yesung, kemudian ia masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil sesuatu. Gadis itu mengangguk dan duduk di sofa ruang tamu. Ia memandangi ruangan bercat putih itu sambil menunggu Yesung kembali.
“Chagiya?” panggil Yesung setelah kembali dari kamar.
“Nde, oppa?” jawabnya dengan senyuman manis.
Yesung berlutut di hadapan gadis itu, kemudian mengeluarkan tangan yang ia sembunyikan di balik punggungnya. “Kau berjanji akan menjadi takdirku kelak?”
Tangannya memberikan sebuah cincin kuningan berbentuk huruf “Y&Y”.
Gadis itu, dengan wajah memerah, mengangguk pelan. Dan dengan sekejap, cincin kuningan itu sudah melingkari jari manisnya.
“Nah, sekarang kita punya cincin yang sama!” yesung berteriak riang menunjukkan cincin kuningan yang sama di jari manisnya.
End of Flashback~
Yesung duduk di kursi dengan kaki di atas meja layaknya seorang presiden direktur pada umumnya. Ia mengetuk-ketukan pena di dagu. Pikirannya melayang jauh dari urusan kantor. “Dia pasti sudah dewasa sekarang…”
Sudah sembilan tahun semenjak ia lulus SMP, ia tidak pernah bertemu. Surat-surat dan email yang ia kirim tidak pernah dibalas. Alamat rumahnya yang dulu sudah berganti pemilik dan ia tidak tahu alamatnya yang sekarang. Selama sembilan tahun itu, ia uring-uringan memikirkan gadis itu. Sung Younghee.
Younghee dua tahun lebih muda darinya. Wajahnya putih, mulus, senyumnya manis, rambutnya yang sedikit ikal selalu di kuncir kuda. Setidaknya begitulah Younghee sejak terakhir kali mereka bertemu. “Apa kau lupa janjimu, hm? Bertahun-tahun aku menunggumu, memikirkanmu… sedang apa kau sekarang? Apa kau sehat? Bagaimana kuliahmu? Bagaimana perasaanmu padaku? Apakah masih tetap terjaga? Apa kau lupa bahwa kaulah takdirku?” batinnya. Lalu ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan seuntai kalung dengan cincin sebagai liontinnya.
***
Other side…
Sung Younghee menatapi pantulan dirinya di cermin. Ia membenarkan kerah kemeja putihnya dan tatakan rambutnya, kemudian kembali menatap matanya sendiri di dalam cermin. Hufh, terlihat begitu gugup. Younghee menghela nafas dengan berat.
Sebenarnya hari ini ia akan melakukan wawancara pekerjaan di sebuah perusahaan. Kebetulan perusahaan tersebut membuka lowongan pekerjaan yang sesuai dengannya. Yah, semoga saja hari ini ia mendapatkan keberuntungan. “Semoga saja.” Batinnya memantapkan diri. Ia mengambil tas dan pergi keluar apartemennya dengan percaya diri.
“Maaf, nona. Waktu wawancara anda sudah selesai lima menit yang lalu,” ujar petugas yang berdiri dibalik meja resepsionis.
“Apa? Tidak ada yang bilang kalau waktunya dimajukan?” bantah Younghee. Ia terkejut. Ini baru pukul 7.00, sedangkan menurut pemberitahuan dua hari yang lalu wawancaranya akan dimulai pukul 7.15.
“Maaf nona, anda bisa keluar sekarang.” Petugas itu merentangkan tangannya ke arah pintu keluar.
“Pak, saya mohon beri saya kesempatan pak. Saya tidak tahu kalau waktu wawancaranya diubah. Saya sangat butuh pekerjaan ini. Saya mohon agar anda memberi saya kesempatan. Saya mohon pak… ” pinta Younghee menangkupkan kedua tangannya di atas kepala sambil menunduk. Wajahnya dibuat-buat agar terlihat memelas.
Mungkin karena merasa iba, bapak petugas itu akhirnya membantu Younghee. “Ruang wawancaranya ada di lantai lima, anda bisa naik lift yang ada di seberang ruangan. Tapi itu kalau kau masih diberi kesempatan untuk wawancara. Aku hanya mencoba membantu.”
Younghee membelalak senang. “Baik! Terimakasih atas bantuan anda!” ia membungkukkan tubuhnya.
Ia segera berjalan menuju lift dan menunggu pintunya terbuka. Setelah pintunya terbuka, seorang pria dengan jas dan dasi keluar dari lift. Gayanya seperti seorang bos. Ia mengenakan kacamata hitam dan jalannya agak membusung. Younghee tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena ia menunduk. Setelah pria itu keluar, Younghee masuk ke dalam lift.
Younghee memperhatikan keadaan disekelilingnya. Kemudian matanya menangkap sebuah benda kecil di sudut ruang lift. Dipungutnya benda itu…
“Astaga!!!” ia tersentak seketika saat menyadari apa yang ada di tangannya itu.
***
“Apa? Aku diterima? Terima kasih banyak, Pak! Terimakasih atas kesempatan bekerja yang anda berikan!” ujarnya riang. Ia berjabatan tangan dengan orang yang tadi mewawancarainya, kemudian membungkuk hormat.
“Sama sama, sekarang pulanglah. Besok kau harus bekerja. Oh iya, jangan sampai telat lagi!” ucap orang yang bernama Pak Pyohyang. Manajer marketing yang tadi mewawancarai Younghee.
“Siap!” jawab Younghee mantap, ia membungkuk sekali lagi dan berpamitan untuk pulang.
Younghee merebahkan diri di kasurnya setelah sampai di apartemen. Ia teringat benda yang ia temukan di lift tadi dan mengambilnya dari dalam tas.
“Ini…” gumamnya. Kemudian ia mengambil benda miliknya yang ia simpan di dalam laci meja rias.
“Ini… persis sama seperti yang aku punya. Oppa, apa benar itu kau? Oppa, apa mungkin itu kau? Oppa, apa kau tidak melihatku tadi? Oppa… Oppa… aku sangat merindukanmu…” Ia memejamkan matanya yang terasa panas dan membiarkan airmatanya meluncur di pipinya. Cincin itu, cincin yang ia temui di dalam lift, diletakkannya diatas dada dengan digenggam erat. Isakannya semakin kencang, namun tanpa suara.
***
Pagi hari di kamar Yesung…
Yesung terkejut tatkala menyadari cincinnya sudah tidak ada lagi di dalam saku celananya. Ia sangat panik dan mulai mengingat-ingat dimana terakhir kali ia meletakkan benda itu. Seingatnya, cincin itu sudah ia masukkan ke dalam saku.
Ia kebingungan kemana ia harus mencari cincin itu. Cincin yang sangat berarti baginya. Cincin yang hanya ada dua di dunia, miliknya dan milik Younghee. Cincin yang dapat mempersatukan mereka kembali.
Cincin itu… ikrarnya. Cincin tanda cinta.
Tapi sekarang apa? Dimana cincin itu? Seluruh sudut ruangan sudah ia cari, bahkan kamarnya pun kini sudah tak berbentuk lagi karena ia mencarinya dengan sangat emosional. Semua harapannya ikut menguap bersamaan dengan hilangnya cincin itu. Ia frustasi. Kemudian ia terjatuh lemas di samping ranjangnya. Menangis tersedu.
‘Younghee… bagaimana ini?’
“Jongwoon-ah?” tiba-tiba terdengar suara seorang wanita dengan nada lembut dari balik pintu. Yesung tahu kalau itu adalah ibunya, namun ia hanya diam. Ia tidak tahan menangis di depan ibunya, takut malah membuat ibunya ikut bersedih.
“Jongwoon-ah?” panggilnya sekali lagi.
Dalam satu sentakan cepat, Yesung langsung mengelap sisa-sisa airmatanya dan mengatur kembali nafasnya yang tersengal. “Nde, umma?” jawab Yesung pada akhirnya.
Sang ibu membuka pintu kamar dengan perlahan, kemudian masuk dan mendekati Yesung yang berdiri di samping ranjang.
“Mianhae, umma. Kamarku jadi berantakan.” Ucapnya dengan nada menyesal.
Ibunya tersenyum. “Anakku, ada apa sebenarnya? Katakan, mungkin umma bisa sedikit membantu…” tanya ibu Yesung dengan penuh perhatian.
Karena tidak enak sudah membuat ibunya khawatir, Yesung hanya berkata, “Tidak apa, umma. Aku tadi sedang mencari barangku yang hilang. Mungkin ada di kantor. Baiklah, aku berangkat ke kantor dulu, umma.” Kata Yesung, kemudian ia pamit dan pergi meninggalkan ibunya dan kamarnya yang berantakan.
Lagi-lagi ia melamun ditengah pekerjaannya. Laptop yang ada dihadapannya itu hanya dipandang kosong. Pikirannya tidak bisa lepas dari cincin itu. Pikirannya tidak pernah lepas dari Younghee. “Astaga… dimana cincin itu?” ia mengeluh sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Tok tok tok…
Ditengah keputus-asaan Yesung mengenai cincinya, tiba-tiba terdengar seseorang mengetuk pintu ruangannya.
“Permisi, Pak.” ujar suara disebrang sana.
“Masuk.” jawab Yesung sekenanya.
Kemudian seorang wanita muda masuk dengan membawa beberapa map. Yesung menyadari bahwa ia belum pernah melihat pegawai ini sebelumnya. ‘Hmm, pegawai baru rupanya,’ pikir Yesung.
Wanita itu membungkuk di hadapan Yesung, kemudian kembali tegap dan memberikan mapnya pada Yesung. “Ini tugas yang sudah saya selesaikan, pak.” Katanya.
Tiba-tiba ketika Yesung hendak mengambil map itu, gadis itu—seakan baru menyadari sesuatu—melonjak kaget dan memelototi Yesung. Map yang hampir ia raih terhempas ke lantai.
Yesung kaget juga melihat gadis itu terpaku. Ia heran dan tidak mengerti apa yang telah membuat gadis itu kaget. “Halo?” Yesung melambaikan tangannya didepan wajah gadis itu.
Gadis itu—yang baru sadar dari lamunannya—kemudian merogoh saku roknya dan menyodorkan sesuatu.
“M-maaf… apakah… ini… m-milik anda?” tanya gadis itu dengan sangat gugup. Yesung melihat benda yang gadis itu berikan.
***
“Younghee-sshi, cepat berikan tugasmu pada pak direktur. Beliau sangat tidak suka dengan pegawai yang tidak tepat waktu.” Perintah Pak Pyohyang pada Younghee yang masih mengetik di mejanya.
“Baik, Pak.” Jawabnya. Ia menyelesaikan ketikannya, lalu mengambil beberapa berkas dari dalam boksfile yang ada di samping komputer dan segera menuju ruang direktur.
Tok tok tok…
Ia mengetuk pintunya agak canggung. Ia belum pernah melihat bosnya secara langsung. Yang ia tahu dari Pak Pyohyang, bosnya sangat disiplin dan keras.
Tidak ada suara di dalam, pikir Younghee. “Permisi, Pak.”
“Masuk.” Balas sang direktur dari dalam ruangan.
Younghee segera masuk dengan sopan, kemudian memberikan berkasnya pada Tuan… Tuan… Tuan siapa? Younghee tidak tahu nama bosnya itu karena memang ini hari pertamanya. Ia mencari papan nama di sekitar meja bosnya itu. Dan ia menemukannya.
‘Tuan Kim Jongwoon, rupanya.’ Ujarnya dalam hati. Namun seketika itu, seakan disambar petir, ia menyadari sesuatu yang membuatnya tercekat. Nama itu… nama itu… Kim Jongwoon?
“Halo?” tangan mungil itu melambai didepannya dan barulah ia sadar kalau selama beberapa detik ini ia lupa bernafas. Ia teringat kembali dengan cincin itu dan mencoba memastikan. Apakah benar dia orangnya?
“M-maaf… apakah… ini… m-milik anda?” ia memberikan kalung-berliontin-cincin itu kepada bosnya. Ia gugup karena takut salah orang. Ia takut kalau cincin ‘Y&Y’ itu diberikan pada orang yang salah.
Sang direktur memperhatikan kalung-berliontin-cincin tersebut dan terkejut. Sama kagetnya dengan Younghee. “Bagaimana bisa ada padamu???” nada suara Yesung meninggi.
Younghee menelan ludah. Dialah orangnya! Astaga… apa dia tidak menyadari siapa yang berdiri di depannya ini? Younghee ingin menjerit dan menangis. Tubuhnya berguncang dan airmatanya tertahan di sudut-matanya.
“Kau…?” suara Yesung merendah. Ia mencoba menerka. “Kau… Younghee?” tanyanya hati-hati. Gadis yang di depannya itu tak kuasa menahan airmatanya. Tangisnya pecah.
“Oppa…” suaranya bergetar.
“YOUNGHEE???” Yesung terlonjak dan langsung berdiri mendekati Younghee, menatap wajah yang menangis itu tanpa menyangka. Ia memang tidak menyangka. Airmatanya ikut jatuh seketika. Dipegangnya pipi basah Younghee. Diusapnya airmata yang masih mengalir. “Younghee… ” gumamnya. Dengan cepat ia langsung memeluk erat Younghee yang semakin keras menangisnya. “Syukurlah kau baik-baik saja.” Katanya sambil mengusap kepala Younghee.
“Mianhae, oppa. Aku tidak bisa menghubungimu. Aku sudah berusaha mencari surat-surat darimu, tapi selalu saja gagal. Mianhae…” jawab Younghee yang masih menangis di pelukan Yesung.
“Kau tahu sudah berapa lama aku menunggu?” Yesung melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu Younghee dengan erat. Yang ditanya hanya diam karena masih terisak. “Lama sekali,” lanjut Yesung. “Dan kalau kau belum juga datang, aku akan terus menunggu sampai kau datang…”
“Oppa…” Younghee kembali memeluk Yesung. “Jeongmal saranghae, oppa.”
Yesung tersenyum mendengarnya. Ia tersenyum bahagia.“Nado jeongmal saranghae, Younghee…”
“Oh, iya. Cincinmu mana?” tanya Yesung tiba-tiba, memecahkan suasana romantis yang sedang berlangsung.
Dengan bibir mengerucut, Younghee mengambil cincinnya dari dalam sakunya. “Ini!” Ia memasang cincinnya di jari kelingking. “Ini janji kelingkingku. Di jari manis sudah tidak muat.” katanya riang.
Yesung tertawa gurih. Kemudian mencubit pipi Younghee dengan gemas. “Kau ini.”
Dan begitulah pada akhirnya.
“Cinta, bagaikan bumerang, akan kembali sejauh apapun ia pergi.”
Date: 6-Juni-2012
Komentar
Posting Komentar