That Day, That Simple Advice

Hai, Annyeong, Salut, Shalom, Hello, Assalamu'alaikum.

Long time no see. Because of my bussiness, i can't update my entry in this blog. (i don't need to apologize since the reader is none, right? haha stupid. trus yang lo salamin di awal tadi siapaaa. Ya siapa aja lah. anggep ini monolog juga boleh.)

Gue mau cerita. Sebenernya ini udah lama banget terjadi, sekitar juni tahun lalu. Sewaktu gue kasih scrapbook ke sobat gue.
Sebelumnya, gue bersyukur banget dia bisa back to her daily activity ^^ dan gue sempet have a good time sama dia.

Makasih traktirannya! hihihi ><

-lanjuttt-


Jadi ceritanya, setelah satu jam obrolan itu--obrolan bersama sobat-sobat gue itu--, gue dan sobat gue yang lain berencana untuk langsung pulang, tapi karena mamanya sobat gue ada urusan sebentar, akhirnya kami menunggu di ruang tunggu. Nah, di situ gue duduk dan di sebelah gue ternyata ada seorang kakek yang lagi nungguin istrinya. Awalnya cuma basa-basi, lalu kenalan. Sayang, gue lupa nama kakek ini. Yang gue ingat hanya garis besar percakapan kami saat itu.
Gue memanggil kakek ini dengan sebutan Bapak saat itu, supaya kedengaran lebih sopan. Si Bapak orangnya ramah, dan terlihat begitu baik. or is it just you who get impressed so easily? Tidak. Hahaha. Si Bapak memang orang baik. Beliau awalnya menceritakan istrinya yang sedang sakit, kemudian beliau menceritakan anaknya yang sekarang sudah bekerja. Yang beliau ceritakan adalah masa ketika anaknya akan memasuki perguruan tinggi negeri yang terkemuka. Beliau bukanlah seorang yang tajir dan penampilannya pun sangat sederhana. Dengan ribuan orang rival, anaknya mengikuti tes masuk perguruan tinggi tersebut. Beliau berkata bahwa beliau hanya bisa membantu dengan mendoakan anaknya dari rumah, sedangkan yang berjuang hanyalah anaknya sendiri. "Baca surah Al-Fatihah," katanya. "Al-Fatihah itu punya makna dan manfaat yang begitu besar. Itulah mengapa ia menjadi surah pertama dalam Al-quran dan bacaan wajib dalam salat," gue sempet terdiam memikirkan kata-kata itu. Kemudian beliau melanjutkan, "saya baca surah itu sampai 40 kali lebih dan alhamdulillah, Allah mendengar doa saya dan dikabulkan. Anak saya lolos..." gue lupa, apakah anaknya mendapatkan beasiswa atau enggak. Yang jelas, anaknya sudah bekerja, jadi pns, tanpa sepeserpun uang untuk 'amplop'. Beliau menceritakannya dengan sangat bangga, tidak dalam arti sombong. Tentu saja. Beliau berpesan juga kepada gue, untuk sering-sering membaca Al-fatihah. Ya, dan percakapan itu berakhir setelah waktunya gue harus pulang.

Masya Allah...
Mungkin sangat sederhana, tapi gue masih teringat kejadian itu.
Dan gue berterima kasih kepada Allah SWT, karena mengizinkan gue mendengar cerita si Bapak.
Dari semua yang gue ceritain, yang nyambung ataupun engga, out of topic or not, gue mau menyimpulkan bahwa restu orang tua itu luar biasa. Apalagi kalau diiringi dengan usaha kita sendiri. Berusaha, berdoa dan minta ridho sama orang tua. Ridho Allah itu tergantung ridho orang tua, udah pada tau kan? Dan, doa yang tulus itu tidak akan pernah sia-sia. Gue yakin, Allah selalu punya rencana yang jauh lebih baik. Mungkin, bukannya dikabulkan, Allah malah memberi yang lebih baik dari yang kita pinta. Kalau tulus mendoakan oranglain, Inshaa Allah, kebaikannya untuk kita juga.

Just be positive ;)

Komentar